Santri Mojokerto Jadi Korban Pengeroyokan 4 Senior, Orang Tua Tuntut Keadilan

korban penganiayaan oleh empat orang seniornya di salah satu Panti Asuhan yang ada di Desa Banjaragung, Kecamatan Puri.

MOJOKERTO, Pewarra88.com) – AD (14) yang masih duduk di bangku kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (MTS) menjadi korban penganiayaan oleh empat orang seniornya di salah satu Panti Asuhan yang ada di Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jatim, pada Minggu (15/2/2026) dini hari.

Informasi yang digali pewarta88.com, Korban yang baru pulang menonton karnaval sound horeg diduga langsung dikeroyok, diseplak  dan ditendang di bagian kepala hingga mengalami luka serius.

Atas kejadian tersebut, orang tua melaporkan kasus ini ke Polres Mojokerto dengan nomor laporan LP/B/20/II/2026/SPKT/POLRES MOJOKERTO/POLDA JAWA TIMUR.

Nur Laili (41) ibu korban, warga Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, mengungkapkan kejadian bermula saat AD bersama empat orang temannya keluar dari pondok setelah selesai diba'an untuk menonton acara karnaval sound horeg di Desa Medali.

Sepulang menonton, AD dan keempat rekannya itu ternyata sudah ditunggu oleh empat orang senior di depan pondok, yaitu DT, asal Desa Sooko, Mojokerto, DR asal Desa Kupang, Mojokerto, AR asal Kelurahan Kedundung, Kota Mojokerto, dan Kiki asal Kediri yang sudah bekerja.

"Kalau yang enggak ikut dihajar itu dua orang kakak kelas dari SMA, RG sama NZ. Yang kena hajar itu anak saya, AD, sama teman sekelasnya, HR. Tapi saya lihat sendiri, HR, enggak apa-apa. Yang babak belur parah ini cuma anak saya," ungkapnya sambil menunjukan luka anaknya saat ditemui awak media kediamannya pada Rabu, (18/2/2026).

Masih dikatakan orang tua korban, akibat penganiayaan tersebut, anaknya AD mengalami sejumlah luka. Mata kanannya memar, bibirnya bengkak, dan punggungnya terasa sakit akibat cambukan menggunakan selang.

"Anak saya melarikan diri dari pondok sampai dirumah jam setengah 3, setelah itu saya tanya. Kenapa wajahnya seperti itu, aku dipukuli Mah ambek arek-arek aku mari nonton sound horeg dilungguhno dikamar maringunu aku disebeti, kepala ku ditendang digepuki ambek arek empat,” tiru sang ibu berhijab itu tak kuasa membendung air mata saat menceritakan kejadian yang menimpa putranya.

orang tua melaporkan kasus ini ke Polres Mojokerto dengan nomor laporan LP/B/20/II/2026/SPKT/POLRES MOJOKERTO/POLDA JAWA TIMUR.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa putranya nekat melarikan diri dari pondok karena tidak tahan dengan siksaan keempat seniornya, kalau tidak lari bisa mati di kamar.

"Anak saya dikejar dan sembunyi di SMA PURI, setelah tidak ada  yang mengejar anak saya peluang lewat sawah Brongkol dan ditolong oleh warga, ya itu diantar oleh mobil pulang," imbuhnya.

Adanya hal itu, Nur Laili bersama adiknya telah mengonfirmasi hal itu ke pihak pondok. Menurutnya, pihak pondok sebenarnya sudah sering mengingatkan para santri agar segera melapor ke pengasuh jika mengalami atau mengetahui adanya masalah.

"Tapi anak-anak itu gak pernah bilang sama pengasuh pondok, tiba-tiba langsung bergerak sendiri gitu lo. Yang saya heran, disitu terlalu bebas sampai santriya keluar aja tidak tahu" ujarnya.

Orang tua korban, Nur Laili berharap, para pelaku penganiayaan terhadap putranya dapat diproses secara hukum. Ia ingin mereka merasakan apa yang telah dialami oleh anaknya.

"Yang memukuli AD anak saya, empat orang itu dapat dipenjara,” harap pungkas wali murid tersebut.(ben/tim).